Kamis, 01 Oktober 2015

Riuh MImpi

Riuh dalam gersang yang abadi

September sudah selesai, namun hujan tak kunjung turun. Masih dalam suasana yang sama. Masih dalam awan yang sama, dan masih dalam rindu yang sama. Seperti bulan yang tampak pada langit malam penghabisan 30S 2015, seperti itu pula kira-kira rinduku, bulat dan utuh, sejadi-jadinya. Mimpi seakan dekat dengan kenyataan. Kali ini segudang ambisi seakan tak lagi bertirai. Semuanya jelas di depan mata. Hanya saja, mana yang lebih dekat denganku?

Dengan pensil, kuas, dan cat, bisa kugambar segalanya,

Dengan kamera, bisa kuabadikan kenangan,

Dengan alat musik seadanya, bisa kulantunkan syair,

Dengan asa, bisa kulakukan semuanya, semuanya…

Lalu yang mana aku?

Yang menggambar atau digambar?

Yang mengabadikan atau diabadikan?

Yang dilantunkan, atau justru aku yang melantunkan?

Ada resah yang kemudian berbisik. Bagaimana aku bisa mengejar semua yang menyenangkan bagiku dalam waktu yang bersamaan? Tentu tidak seketika. Ini hanya pengalihan. Aku pikir, satu pelukan saja cukup untuk membunuh semua mimpi dan ambisiku.

Mencari siapa aku..

Komunikasi

Sketsa

Design

Musik

Fashion

Fotografi

Sinematografi


Terlalu banyak hal yang hanya sebanding dengan satu obyek. Satu satu nya. Semua itu seakan seharga dengan satu pelukan saja. Satu saja.
Bagaimana sebuah kepuasan terbingkai dari rasa ingin selalu senang. Tentang mencari seperti apa seharusnya bertindak. Tak kira bisa kulambungkan lagi ambisiku yang sempat padam pada sebuah September di musim yang lalu. Tak kira angin segar sangat dekat menghantam wajahku. Membangunkanku dari mati suri. Aku kembali…

Untukmu, dimensi mimpiku…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar