Selasa, 27 Oktober 2015

Kemarin

Terngiang secangkir cerita di musim yang lalu
Membumbung setinggi-tinggi nya meninggalkan tanah
Lalu,
Terhempas...
Terjungkal pada sedalam-dalamnya perut bumi

Parafrase dari sajak sederhana
Berputar-putar pada lingkaran tanpa awal
Menyambut dalam pagi yang berakhir dengan senja yang sama
Meski secercah cahaya padanya, tetap senja menelannya di ujung laut sepanjang mata memandang 

Angin pada malam September
Merajalela menjamah malam pada setiap sudutnya

Senja pada Pulau Pelarian,
Bersambung pada sebuah sudut
Bertumpuk-tumpuk kaset pita tertata apik menyandarnya
Jauh,
Tepat di Selatan Jakarta

Kini,
Apalagi?
Sisa-sisa daya yang tak memiliki arti
Jera...
Sekedar saja bersandar
Sayup-sayup kunikmati kebosanan
Berdansa tanpa nada kata
Tanpa aksara
Hanya hampa,
Kini...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar