Pada sebuah harapan yang meruncing pada
asa
Pada sehelai rindu yang melilit di jiwa
yang kosong
Jauh…
Sangat jauh
Rintik hujan pertama di bulan September. Seperti biasa, masih dalam
suasana rindu. Berselimutkan harap yang seakan tiada jemu menyertai. Tubuh
tiba-tiba membiru seiring suasana yang makin larut. Malam memang selalu
menjanjikan banyak cerita. Akan selalu banyak cinta diantara langit mendung
sekalipun.
Sore ini cintaku kembali bersemi.
Rinduku pada seorang yang jauh disana, seakan kulupakan sejenak karenanya. Dia,
September-ku yang lalu. Dia, angin malamku yang lalu, telah kembali. Namun
guratan sakit pada dadaku masih tak mereda sedikitpun. Pelipisku kerap sakit
jika mengingat bagaimana ia berhembus, hingga kembali lagi pada sore ini.
Sementara, kulupakan Senja. Kulupakan kisah di Pulau Pelarian.
Tak berlangsung lama. Romantika ini tak
akan pernah nyata. Aku dan kamu tidak akan lagi menjadi kita. Hanya cerita yang
mampu memberi kita posisi, sebagai pelaku utama atau sebagai figuran, ketiga.
Berapa banyak lagi hati yang harus kujaga? Lupakan saja bahwa jiwa yang kosong
sekalipun memiliki hati untuk juga duijaga. Hatiku…
Seberapapun rindu ini mekar, seketika
itu pula ia padam. Mengapa? Karena rindu ini tak akan pernah sampai pada raga
yang tepat. Pulau Pelarian nyatanya masih menyisakan banyak rindu yang tak
terselesaikan. Aku lelah jika harus selalu menerka hati manusia lain, sementara
aku juga harus menjaga hati manusia lainnya yang menyimpan hati manusia yang
kurindukan.
Jauh…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar