Sabtu, 12 September 2015

Riwayat angin Pulau Pelarian

Pada setiap jeda yang diciptakan oleh ruang dan waktu
Pada sebuah harapan yang meruncing pada asa
Pada sehelai rindu yang melilit di jiwa yang kosong
Jauh…
Sangat jauh

Rintik hujan pertama di  bulan September. Seperti biasa, masih dalam suasana rindu. Berselimutkan harap yang seakan tiada jemu menyertai. Tubuh tiba-tiba membiru seiring suasana yang makin larut. Malam memang selalu menjanjikan banyak cerita. Akan selalu banyak cinta diantara langit mendung sekalipun.

Sore ini cintaku kembali bersemi. Rinduku pada seorang yang jauh disana, seakan kulupakan sejenak karenanya. Dia, September-ku yang lalu. Dia, angin malamku yang lalu, telah kembali. Namun guratan sakit pada dadaku masih tak mereda sedikitpun. Pelipisku kerap sakit jika mengingat bagaimana ia berhembus, hingga kembali lagi pada sore ini. Sementara, kulupakan Senja. Kulupakan kisah di Pulau Pelarian.

Tak berlangsung lama. Romantika ini tak akan pernah nyata. Aku dan kamu tidak akan lagi menjadi kita. Hanya cerita yang mampu memberi kita posisi, sebagai pelaku utama atau sebagai figuran, ketiga. Berapa banyak lagi hati yang harus kujaga? Lupakan saja bahwa jiwa yang kosong sekalipun memiliki hati untuk juga duijaga. Hatiku…

Seberapapun rindu ini mekar, seketika itu pula ia padam. Mengapa? Karena rindu ini tak akan pernah sampai pada raga yang tepat. Pulau Pelarian nyatanya masih menyisakan banyak rindu yang tak terselesaikan. Aku lelah jika harus selalu menerka hati manusia lain, sementara aku juga harus menjaga hati manusia lainnya yang menyimpan hati manusia yang kurindukan.
Jauh…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar