Sekali lagi,
Jatuh cinta dan patah hati,
dua hal yang sering
di-lebih-lebihkan…
Untukmu, September…
Jika pada September lalu aku
mengagumi angin dari diriku sebagai malam, tak jauh berbeda, kali ini malam
masih dengan sepinya. Hanya saja rupanya malam sudah mulai terbiasa dengan
angin… ya, angin~
Kali ini petang…
Kali ini sunset…
Entah angin atau semacamnya
Kali
ini angin senja.
Diantara siang dan malam yang sesungguhnya.
Semua berawal dari Pulau
Pelarian.
Terhuyung ragaku menuju tepian
ombak laut selatan
Menyaksikan merahnya matahari ketika itu.
Masih dengan sepi
yang kian meruncing.
Andai kau tahu, aku bosan dengan kehampaan ini.
Aku masih tetap menunggu.
Seperti September yang
sudah-sudah.
Angin malam kali ini benar-benar
sudah berlalu..
Membawa segubuk cerita yang
kuharap bisa kulengkapi dengan pondasi yang kuat berupa kesabaran,
Memboyong segala harap…
Membunuh seluruh mimpi…
Kejam!
Angin…
Dialah teman bagi malam,
sebelumnya…
Malam lupa bahwa masih ada bulan,
bintang, dan ombak yang senantiasa menemaninya dalam sendu tanpa cahaya.
yang ia rasa, hanya kerlip
lampu kota yang meramaikan langit malam, selebihnya malam seakan tak mampu
merasakan apa yang ada di sekitarnya.
Bukan sekedar pertemuan,
Bukan
pula sekedar berjabat tangan dalam kesepian.
Lebih dari itu,
aku menyukaimu!
Benarkah?
Tentu tidak!
Aku jelas hanya
bercanda.
Tapi sungguh, aku benar-benar ingin memelukmu ketika kita terdampar
di Pulau Pelarian.
Bertatap muka dalam tawa.
Seandainya
bisa kukatakan betapa bahagianya aku ketika itu.
Lalu angin, menjanjikan pertemuan
di Pulau Pelarian. Namun tak pernah bisa aku menemuainya. Aku tak pernah bisa
merasakannya lagi. Bahkan ketika aku berada di Pulau Pelarian untuk beberapa
hari, aku masih tidak yakin akan ada pertemuan antara aku dan angin.
Sedikit menghibur, aku menemukan
angin segar di petang hari. Diantara karang yang timbul akibat laut yang surut
pada bulan itu. Kukira ini bagus bagiku. Aku bisa merasakannya.
Angin…
bukan
lagi angin malam.
Angin senja… angin senja yang tak pernah terduga.
Aku enggan menyebutnya dalam
kiasan lain.
Setahuku, semua yang datang akan
pergi,
cepat atau lambat...
Bagiku, satu satunya yang pasti dalam hidup ini adalah
ketidak-pastian itu sendiri…
Aku masih ingin merindukanmu,
angin senja…
Aku masih ingin menemuimu lagi,
Aku ingin menyapamu lagi, lagi,
lagi, lagi, lagi,
Dan lagi…
Bosan!
Kisah ini akan selalu
berjalan sama.
Aku-pun muak harus menjadi diam,
kenapa bukan aku yang menjadi angin?
kenapa bukan aku yang meninggalkan?
kenapa bukan aku yang menggugurkan daun?
kenapa bukan aku yang meliukkan dahan yang lemah?
kenapa???
Tak ingin larut dalam pilu-ku yang tak
lagi bisa menikmati angin malam.
Aku harus bahagia,
Seketika kurasakan ragaku utuh. Tak
lagi ada sisa-sisa kesedihan yang mengakar dalam diri.
Yaa, aku jatuh cinta, lagi…
Terlalu cepat bagi hati yang baru
saja patah.
Memang...
Terlalu cepat pula pada pertemuan yang singkat
Sebentar saja,
hanya sebentar aku
bersama angin senja di Pulau Pelarian.
Dibawanya seseorang yang tak bisa
kulupakan hingga aku kembali pulang dari Pulau Pelarian.
Sebentar...
lalu kami tak saling
berkabar lagi..
Lupakan,
Kembali pada jarak yang tak
mungkin bisa kita akali dengan hanya sekedar rinduku saja.
Cerita di Pulau Pelarian
itu biarlah hanya aku yang merasakan.
Biarlah hanya aku yang memaknainya dalam sebuah
kenangan yang tidak biasa.
Biarlah aku yang mengembangkan cerita ini dalam
anganku saja, asal aku bagaia, dan asalkan tidak berdampak apapun untukmu,
angin senja…
Tanpa pamitan, kita tak lagi bisa
bertemu.
Tanpa melambaikan tangan, kita tak lagi bisa menyapa.
Tangan kita tak
lagi bisa berjabat sambil aku memandang tawa di wajahmu.
Senja itu, aku hanyut
padamu…
Namun lagi,
Aku menemui ketakutanku saat
secara tiba-tiba dan singkat pula aku kembali bisa menyapamu. Seperti kau pernah
menyapa raga yang lain dan meninggalkan sebagian hatimu disana, dan sepertinya
tak akan bisa kau bawa pulang lagi. Aku takut. Aku tak ingin kau sama dengan
angin malam yang sudah benar-benar berlalu. Harapanku pada suatu pagi nanti,
aku tak lagi ingin mengumpamakanmu angin.
Aku jera,
Aku tak bisa melanjutkan ini..
Meski rasaku kian pasti, namun
angin tetaplah angin,
Segala yang datang akan pergi,
Cepat atu lambat,
Jangan khawatir…
Angin tetaplah angin,
Akan selalu berhembus,
Akan selalu menyapa,
Hati jangan kau buat sakit,
Nikmatilah…
Aku hanya perlu memeluk raga yang
mampu berjanji tidak akan menjadikan dirinya angin dalam keadaan apapun.
Dan kamu
angin senja Pulau Pelarian, ini untukmu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar