Selasa, 08 September 2015

angin segar, angin senja Pulau Pelarian



Sekali lagi,
Jatuh cinta dan patah hati,
dua hal yang sering di-lebih-lebihkan…

Untukmu, September…
Jika pada September lalu aku mengagumi angin dari diriku sebagai malam, tak jauh berbeda, kali ini malam masih dengan sepinya. Hanya saja rupanya malam sudah mulai terbiasa dengan angin… ya, angin~
Kali ini petang…
Kali ini sunset
Entah angin atau semacamnya
Kali ini angin senja. 
Diantara siang dan malam yang sesungguhnya.

Semua berawal dari Pulau Pelarian.

Terhuyung ragaku menuju tepian ombak laut selatan
Menyaksikan merahnya matahari ketika itu.
Masih dengan sepi yang kian meruncing.
Andai kau tahu, aku bosan dengan kehampaan ini.

Aku masih tetap menunggu.

Seperti September yang sudah-sudah.
Angin malam kali ini benar-benar sudah berlalu..
Membawa segubuk cerita yang kuharap bisa kulengkapi dengan pondasi yang kuat berupa kesabaran,
Memboyong segala harap…
Membunuh seluruh mimpi…

Kejam!

Angin…
Dialah teman bagi malam, sebelumnya…
Malam lupa bahwa masih ada bulan, bintang, dan ombak yang senantiasa menemaninya dalam sendu tanpa cahaya.
yang ia rasa, hanya kerlip lampu kota yang meramaikan langit malam, selebihnya malam seakan tak mampu merasakan apa yang ada di sekitarnya.

Bukan sekedar pertemuan,
Bukan pula sekedar berjabat tangan dalam kesepian.
Lebih dari itu,
aku menyukaimu!

Benarkah?

Tentu tidak!
Aku jelas hanya bercanda.
Tapi sungguh, aku benar-benar ingin memelukmu ketika kita terdampar di Pulau  Pelarian.
Bertatap muka dalam tawa. 
Seandainya bisa kukatakan betapa bahagianya aku ketika itu.

Lalu angin, menjanjikan pertemuan di Pulau Pelarian. Namun tak pernah bisa aku menemuainya. Aku tak pernah bisa merasakannya lagi. Bahkan ketika aku berada di Pulau Pelarian untuk beberapa hari, aku masih tidak yakin akan ada pertemuan antara aku dan angin.

Sedikit menghibur, aku menemukan angin segar di petang hari. Diantara karang yang timbul akibat laut yang surut pada bulan itu. Kukira ini bagus bagiku. Aku bisa merasakannya. 
Angin… 
bukan lagi angin malam. 
Angin senja… angin senja yang tak pernah terduga.

Aku enggan menyebutnya dalam kiasan lain.
Setahuku, semua yang datang akan pergi, 
cepat atau lambat...
Bagiku,  satu satunya yang pasti dalam hidup ini adalah ketidak-pastian itu sendiri…

Aku masih ingin merindukanmu, angin senja…
Aku masih ingin menemuimu lagi,
Aku ingin menyapamu lagi, lagi, lagi, lagi, lagi,
Dan lagi…

Bosan!
Kisah ini akan selalu berjalan sama. 
Aku-pun muak harus menjadi diam,
kenapa bukan aku yang menjadi angin?
kenapa bukan aku yang meninggalkan?
kenapa bukan aku yang menggugurkan daun?
kenapa bukan aku yang meliukkan dahan yang lemah?
kenapa???

Tak ingin larut dalam pilu-ku yang tak lagi bisa menikmati angin malam.
Aku harus bahagia, 

Seketika kurasakan ragaku utuh. Tak lagi ada sisa-sisa kesedihan yang mengakar dalam diri.
Yaa, aku jatuh cinta, lagi…
Terlalu cepat bagi hati yang baru saja patah. 
Memang... 
Terlalu cepat pula pada pertemuan yang singkat
Sebentar saja, 
hanya sebentar aku bersama angin senja di Pulau Pelarian.

Dibawanya seseorang yang tak bisa kulupakan hingga aku kembali pulang dari Pulau Pelarian.
Sebentar... 
lalu kami tak saling berkabar lagi..

Lupakan,
Kembali pada jarak yang tak mungkin bisa kita akali dengan hanya sekedar rinduku saja.
Cerita di Pulau Pelarian itu biarlah hanya aku yang merasakan. 
Biarlah hanya aku yang memaknainya dalam sebuah kenangan yang tidak biasa. 
Biarlah aku yang mengembangkan cerita ini dalam anganku saja, asal aku bagaia, dan asalkan tidak berdampak apapun untukmu, 
angin senja…

Tanpa pamitan, kita tak lagi bisa bertemu. 
Tanpa melambaikan tangan, kita tak lagi bisa menyapa. 
Tangan kita tak lagi bisa berjabat sambil aku memandang tawa di wajahmu. 
Senja itu, aku hanyut padamu…

Namun lagi,
Aku menemui ketakutanku saat secara tiba-tiba dan singkat pula aku kembali bisa menyapamu. Seperti kau pernah menyapa raga yang lain dan meninggalkan sebagian hatimu disana, dan sepertinya tak akan bisa kau bawa pulang lagi. Aku takut. Aku tak ingin kau sama dengan angin malam yang sudah benar-benar berlalu. Harapanku pada suatu pagi nanti, aku tak lagi ingin mengumpamakanmu angin.

Aku jera,
Aku tak bisa melanjutkan ini..
Meski rasaku kian pasti, namun angin tetaplah angin,
Segala yang datang akan pergi,
Cepat atu lambat,
Jangan khawatir…
Angin tetaplah angin,
Akan selalu berhembus,
Akan selalu menyapa,
Hati jangan kau buat sakit,

Nikmatilah…
Aku hanya perlu memeluk raga yang mampu berjanji tidak akan menjadikan dirinya angin dalam keadaan apapun. 
Dan kamu angin senja Pulau Pelarian, ini untukmu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar