Senin, 20 Maret 2017
Sejengkal ruang di kala hujan
Minggu, 15 Januari 2017
Buah keresahan
Standar kecantikan Indonesia itu yang seperti apasih?
seperti yang di iklan-iklan itu kah?
wajah baru Indonesia? putih, berambut panjang, semampai, alis aduhai, make up glowing-glowing, dan lain-lain..
Hi Ladies, love yourself..
You're beautiful.
Begitupun untuk standar ke-mbois-an (re: tampan) pria Indonesia itu yang seperti apa?
Mungkin, banyak orang yang tidak menyadari bahwa pria juga bisa saja mengalami krisis kepercayaan diri saat dihadapkan dengan konstruksi ketampanan, di Indonesia misalnya.
Terkadang, peran lawan jenis juga membantu mempertajam serta menumpulkan standar tersebut.
Saya rasa, pada umumnya, orang itu senang dipuji. Saat dipuji, mereka seperti memiliki semacam tanggung jawab untuk terus melakukan hal yang membuatnya dipuji.
Misal, kamu cantik menggunakan kacamata. Bisa jadi ia akan sering2 menggunakan kacamata agar selalu terlihat cantik.
Sebaliknya.
Misal, pakai baju yang itu aja bagus. Biar kaya "si idola".
Secara tidak langsung, orang tersebut diminta untuk menjadi seperti orang lain, dan jika berlangsung terus menerus bisa jadi ia akan kehilangan kebanggaan atas dirinya sendiri.
Nilai pujian juga tergantung pada kedekatan sosial. Semakin dekat hubungannya (keluarga/teman), maka semakin bernilai pujian tersebut.
Guys..
Respect them who choose to be theirself.
Bantu orang-orang di sekelilingmu menemukan kepercayaan diri dengan segala yang dimilikinya.
Puji mereka sebagai diri mereka, apa adanya mereka.
YOU ARE BEAUTIFUL.
Rabu, 28 Desember 2016
Penggalan
Ada yang diam diam mengingat
Namun sadar tak ada yang utuh
Sudut bibir yang terbaca jelas
kosong dalam tawanya
Sekeras apapun mengingat
Tak kunjung ia jumpai apa
Semuanya begitu cepat. Penggalan-penggalan kisah yang terabadikan dalam toples berkarat di dasar ingatan. Setelahnya, lupa.
Siapa dia siapa mereka
Dimana dia dimana mereka
Menjumpai sejuta tanya, lalu mengilang. Selesai begitu saja.
Tak ada yang tersisa,
Selepas datang,
Sudahlah pasti pergi nantinya.
Entah siapa yang memilih beranjak
Lainnya,
Kulihat akrab satu sama lain
Disana cinta bersemi
Disana tawa bersarang
Disanalah kamu ketika itu
Datanglah pada tempatnya. Segerombolan cerita yang menyela tak memiliki awal. Merebut cinta, merebut tawa, tapi tidak dengan kamu. Kokoh pada cerita yang sudah kamu mulai. Sepertinya tak ada isyarat berarti untuk berpaling.
Segerombolan cerita yang menyebar dan menyerang cerita lain. Seperti sesuatu yang terdengar kacau.
Dalam derasnya cerita yang entah siapa dan apa serta bagaimana, seletup napas tiba-tiba berbisik untuk berlari sekencang mungkin.
Tinggalkan
Lupakan
Mulailah lagi
Lalu kamu
Tampak berdiri di atas ceritamu,
Menjadi awal baru dari sebuah cerita lainnya
Percayalah,
Kamu menyembuhkan
Meski cerita lain yang menemuimu tak mengerti benar siapa ceritamu yang sudah-sudah
Cerita barumu kini tak akan segan-segan membumi hangus-kan cerita apapun sebelumnya
Datangnya ia atas nama kasih
Darangnya ia atas nama harapan
Datangnya ia atas nama masa depan
Jadilah kini cerita barumu
Yang memiliki awal,
Jadilah kini dua langkah kecil
Yang memiliki tujuan,
Jadilah kini
Sampai hari ini
Selasa, 29 November 2016
Untuk Sahabatku
Rasanya, sudah lama sekali mengenalmu
Sudah hafal benar dengan tai-taimu
Sudah hafal benar dengan tabiat-tabiatmu
Sahabatku...
Selamat...
Kamu sudah berhasil memenangkan hati gadis itu,
Yang dulu pernah kau tanyakan padaku
Kini ia milikmu...
Selamat...
Sahabatku,
Maafkan aku,
Aku bersedih, saat harus kuterima
Bahwa waktumu akan terbagi dengannya,
Aku tak suka,
Tapi...
Sahabatku...
Baru-baru ini kau kembali
Senang rasanya,
Kamu menghilang cukup lama...
Maaf,
Jadi berburuk sangka padanya,
Pada gadismu...
Maaf
Sahabatku...
Maaf,
Sering tak tahu diri menguasaimu,
Mungkin, membuat gadismu iri
Membuat ia merasa tak penting bagimu,
Tapi ia, gadismu,
Mencuri mu!
Atau maaf,
Aku yang mencurimu dari gadismu itu
Harusnya aku mengalah
Harusnya...
Aku melihat kecemburuannya,
Tidakkah kau tahu?
Aku melihat kegelisahannya,
Kalau-kalau kau mengabaikannya
Tidakkah kau melihat?
Sahabatku,
Nanti,
Kita hanya akan saling berkunjung saat merindu.
Sahabatku,Benar kita adalah sejati,
Tapi yang benar saja,
Kita tidak akan saling memandikan saat tua renta nanti bukan?
Salah satu dari kita tidak akan menggoreng pisang, kan?
Atau,
Salah satunya lagi memainkan gitar sembari bernyanyi, bukan?
Sahabatku,
Maafkan aku...
Aku tak punya nasehat bijak soal asmara,
Maafkan aku,
Tak mampu membuatmu mengerti,
Bahwa dia, gadismu, akan selalu disana menunggumu pulang...
Pulanglah...
Pulang...