Senin, 20 Maret 2017

Sejengkal ruang di kala hujan


Hampir pukul empat sore, tepatnya pukul 15.56. Tak ada kopi, juga coklat panas. Hanya beberapa batang rokok yang sebentar lagi juga akan lenyap. Pintu rumah terbuka seperti biasa. Asri barisan pohon cemara yang menjadi pagar. Aroma tanah yang basah berkat rombongan air hujan.

Rintiknya indah, aku suka”, gumamku sambil menatap takjub dari jendela

Langkah sepasang kaki dengan hentakan yang kadang memelan terdengar mendekat. Tak lagi terkejut, mendarat sebuah pelukan dari arah punggungku.

Damai”, ucapku padanya

Sepertinya ia hanya tersenyum. Aku masih memandangi hujan.
Hari ini tak ada playlist 70’an. Hari ini aku hanya ingin mendengar irama hujan, satu paket dengan dingin-nya. Maksudku segar.

Aku ingin bermain lumpur

Dia terus mengelus tubuhku, bermaksud menghangatkan aku yang memang hanya mengenakan kaos sleeveless bersablon Kate Winslet hasil diy­-ku. Ukurannya cukup besar di tubuhku, menutupi sampai sebagian paha.

Aku tidak suka dinding

Kurasa, kali ini ia mulai memperhatikan perkataanku. Aku masih tak menengok padanya, namun kurasakan nafasnya hangat menghadapku.

Aku tidak akan menutup pintunya

Ia melepas arloji dari tangan kirinya. Menaruhnya di meja kecil penuh bingkai foto, tepat disamping aku berdiri.  Suara hujan tak lagi sendiri.
Kurasakan udara dingin menyelinap di punggungku.

Aku ingin...”

Lalu, berdirilah ia tepat di depanku. Mengisi ruang antara aku dan jendela

Minggu, 15 Januari 2017

Buah keresahan

Standar kecantikan Indonesia itu yang seperti apasih?

seperti yang di iklan-iklan itu kah?

wajah baru Indonesia? putih, berambut panjang, semampai, alis aduhai, make up glowing-glowing, dan lain-lain..

Hi Ladies, love yourself..

You're beautiful.


Begitupun untuk standar ke-mbois-an (re: tampan) pria Indonesia itu yang seperti apa?

Mungkin, banyak orang yang tidak menyadari bahwa pria juga bisa saja mengalami krisis kepercayaan diri saat dihadapkan dengan konstruksi ketampanan, di Indonesia misalnya.


Terkadang, peran lawan jenis juga membantu mempertajam serta menumpulkan standar tersebut.


Saya rasa, pada umumnya, orang itu senang dipuji. Saat dipuji, mereka seperti memiliki semacam tanggung jawab untuk terus melakukan hal yang membuatnya dipuji.

Misal, kamu cantik menggunakan kacamata. Bisa jadi ia akan sering2 menggunakan kacamata agar selalu terlihat cantik.

Sebaliknya.

Misal, pakai baju yang itu aja bagus. Biar kaya "si idola".

Secara tidak langsung, orang tersebut diminta untuk menjadi seperti orang lain, dan jika berlangsung terus menerus bisa jadi ia akan kehilangan kebanggaan atas dirinya sendiri.


Nilai pujian juga tergantung pada kedekatan sosial. Semakin dekat hubungannya (keluarga/teman), maka semakin bernilai pujian tersebut.


Guys..

Respect them who choose to be theirself.

Bantu orang-orang di sekelilingmu menemukan kepercayaan diri dengan segala yang dimilikinya.

Puji mereka sebagai diri mereka, apa adanya mereka.


YOU ARE BEAUTIFUL.

Rabu, 28 Desember 2016

Penggalan

Ada yang diam diam mengingat

Namun sadar tak ada yang utuh


Sudut bibir yang terbaca jelas

kosong dalam tawanya

Sekeras apapun mengingat

Tak kunjung ia jumpai apa


Semuanya begitu cepat. Penggalan-penggalan kisah yang terabadikan dalam toples berkarat di dasar ingatan. Setelahnya, lupa.


Siapa dia siapa mereka

Dimana dia dimana mereka


Menjumpai sejuta tanya, lalu mengilang. Selesai begitu saja.

Tak ada yang tersisa,

Selepas datang,

Sudahlah pasti pergi nantinya.

Entah siapa yang memilih beranjak


Lainnya,

Kulihat akrab satu sama lain

Disana cinta bersemi

Disana tawa bersarang

Disanalah kamu ketika itu


Datanglah pada tempatnya. Segerombolan cerita yang menyela tak memiliki awal. Merebut cinta, merebut tawa, tapi tidak dengan kamu. Kokoh pada cerita yang sudah kamu mulai. Sepertinya tak ada isyarat berarti untuk berpaling.


Segerombolan cerita yang menyebar dan menyerang cerita lain. Seperti sesuatu yang terdengar kacau.

Dalam derasnya cerita yang entah siapa dan apa serta bagaimana, seletup napas tiba-tiba berbisik untuk berlari sekencang mungkin.


Tinggalkan

Lupakan

Mulailah lagi


Lalu kamu

Tampak berdiri di atas ceritamu,

Menjadi awal baru dari sebuah cerita lainnya

Percayalah,

Kamu menyembuhkan

Meski cerita lain yang menemuimu tak mengerti benar siapa ceritamu yang sudah-sudah

Cerita barumu kini tak akan segan-segan membumi hangus-kan cerita apapun sebelumnya

Datangnya ia atas nama kasih

Darangnya ia atas nama harapan

Datangnya ia atas nama masa depan


Jadilah kini cerita barumu

Yang memiliki awal,

Jadilah kini dua langkah kecil

Yang memiliki tujuan,

Jadilah kini

Sampai hari ini

Selasa, 29 November 2016

Untuk Sahabatku

Hai...
Rasanya, sudah lama sekali mengenalmu
Sudah hafal benar dengan tai-taimu
Sudah hafal benar dengan tabiat-tabiatmu

Sahabatku...
Selamat...
Kamu sudah berhasil memenangkan hati gadis itu,
Yang dulu pernah kau tanyakan padaku
Kini ia milikmu...

Selamat...

Sahabatku,
Maafkan aku,
Aku bersedih, saat harus kuterima
Bahwa waktumu akan terbagi dengannya,
Aku tak suka,
Tapi...

Sahabatku...
Baru-baru ini kau kembali
Senang rasanya,
Kamu menghilang cukup lama...
Maaf,
Jadi berburuk sangka padanya,
Pada gadismu...
Maaf

Sahabatku...
Maaf,
Sering tak tahu diri menguasaimu,
Mungkin, membuat gadismu iri
Membuat ia merasa tak penting bagimu,

Tapi ia, gadismu,
Mencuri mu!

Atau maaf,
Aku yang mencurimu dari gadismu itu

Harusnya aku mengalah
Harusnya...

Aku melihat kecemburuannya,
Tidakkah kau tahu?
Aku melihat kegelisahannya,
Kalau-kalau kau mengabaikannya
Tidakkah kau melihat?


Sahabatku,
Nanti,
Kita hanya akan saling berkunjung saat merindu.
Selebihnya, kita habiskan dengan pilihan dan pasangan masing-masing...
Sahabatku,Benar kita adalah sejati,

Tapi yang benar saja,
Kita tidak akan saling memandikan saat tua renta nanti bukan?
Salah satu dari kita tidak akan menggoreng pisang, kan?
Atau,
Salah satunya lagi memainkan gitar sembari bernyanyi, bukan?
Itu mimpinya, bersamamu...

Sahabatku,
Maafkan aku...
Aku tak punya nasehat bijak soal asmara,
Maafkan aku,
Tak mampu membuatmu mengerti,
Bahwa dia, gadismu, akan selalu disana menunggumu pulang...
Pulanglah...
Pulang...

Senin, 28 November 2016

Untuk kekasihku

Lagi,
Aku membuatmu bersedih..
Lagi,
Membuatmu menangis,
Membuatmu mengiba

Maafkan aku...
Maaf,
Aku lupa
Bahwa hatimu terbuat dari rakitan baja pilihan.
Keras. Angkuh...
Tapi dibungkus indah oleh bara bait masa  lalumu
Lemah sebenarnya.

Tolong,
Jangan lagi bersedih
Simpan baik-baik air matamu untuk saat-saat bahagia yang belum bisa kupenuhi sekarang...

Gulungan rindumu sangat panjang,
Disertai keresahan tak berpangkal tentang banyak manusia di sekitarmu,
Mungkin ada aku,
Aku tahu itu...

Ingin kutegaskan.
Aku punyamu.
Usah menangisiku,
Memintaku untuk menemanimu,
Memintaku untuk sekedar memelukmu.
Aku punyamu.
Kupastikan aku untukmu.

Sayangnya,
Aku tahu benar mengapa kau masih bersedih...
Karena aku tak seperti itu.
Ya,
Aku nyaris tak pernah memelukmu lagi,
Dalam sendirimu, aku tak disana.
Bahkan aku tak tahu,
Sudah makan-kah kamu hari ini?
Bahkan,
Aku tak tahu berapa banyak teknik mengolah suara yang sudah kau kuasai,
Demi mendapat pujianku..

Maaf,
Membuatmu merasa sendiri...

Katamu...
Suatu hari nanti,
Aku dan kamu akan menghabiskan waktu berdua di beranda

Katamu...
Kau akan memasakkan pisang goreng untukku,
Dan aku yang mempersembahkan beberapa bait lagu kesukaan kita,
Atau maaf, kesukaanku saja.

Susah payah kau jelaskan
Kau rela bunuh ambisimu
Agar bisa berbagi denganku,
Sesuai apa yang kusukai...
Maaf...
Aku tak menyadarinya

Bagaimana seharusnya aku memperlakukanmu?
Sekedar memujimu saja aku enggan,
Hingga membuatmu merasa tak istimewa.

Percayalah...
Dirimu indah...
Hebat...
Pecinta yang tangguh.
Aku hanya tak punya kata yang tepat untuk mewakilinya

Banyak mimpimu tentang kita
Banyak sekali,
Terlalu banyak...
Tapi tak satupun kumengerti,
Bahwa semua yang kau mau adalah kita selamanya...
Lagi,
Aku tuli...

Permataku...
Aku tahu,
Banyak yang menginginkanmu di luar sana,
Yang lebih bisa memanjakanmu,
Menyentuhmu dengan lembut,
Yang tidak akan sering marah-marah padamu,
Tapi kau masih kepadaku..
Kamu masih ke aku..
Sering juga kau tegaskan,
Jawabannya adalah kita.
Lagi,
Aku tak mendengar...

Sungguh aku tersanjung...
Diingini oleh wanita hebat sepertimu
Meski sering kuabaikan,
Sabarmu,
Sungguh besar hatimu

Maafkan aku yang masih seperti ini,
Sementara kamu mulai takut bermimpi soal kita...

Jangan jera,
Kumohon...
Teruslah bermimpi..
Sungguh aku tak bermaksud meredupkanmu...

Bersinarlah...
Bantu aku melarikan diri dari kepekatan ini,
Yang membutakan aku,
Menulikan telingaku,
Membungkus hatiku,
Mengabaikan malaikat tak bersayap yang nyata ada di sisiku

Bersinarlah...
Aku tahu,
Mimpi adalah kekuatan bagimu

Maaf, beberapa sudah kupatahkan.

Dari, lelakimu 🌹

Selasa, 25 Oktober 2016

Menua, menjadi tua

Saat nanti..
Di ruang tengah,
Menunggu anak-anak pulang,
dengan beberapa temannya.
Aku sudah bisa memasak,
sekedar pisang goreng di musim hujan.
Kamu masih menikmati pisang goreng buatanku dan kuseduhkan kopi dengan sedikit gula.
Menanyakan pada anak-anak,dari mana saja seharian..
Aku kembali ke dapur untuk menggoreng lagi beberapa pisang.
Alunan gitarmu membayar sepi saat mereka jauh.
Hingga mereka pulang, kita melebur nada sebagai gambaran rindu.
Aku masih menggambar,
namun ketika itu aku akan hanya mendengarkanmu bernyanyi, memeluk anak-anak yang akan tumbuh dewasa.

Jumat, 26 Agustus 2016

Senada lebih tinggi

Satu satu..
Bait demi bait mulai sia sia
Meredam bahagia menjadi duka
Menepis tawa berganti amarah

Senada..
Mungkin dua nada lebih tinggi,
Atau lebih tinggi lagi,
Hingga dadanya berdebar sesak

Di padang sunyi, sangat sunyi
Kuas dari seberang melukis tawa di bibir yang membiru
Memberi sedikit rona pada pipi yang memucat

Sebelum itu,
Wanita yang sendiri dalam diamnya
Menahan segala isi hatinya
Gundah berkepanjangan
Menjaga lisan agar tak menyakiti
Namun sia-sia,
Baginya, selalu tersisa marah
Baginya, selalu tersisa nada tinggi itu
Baginya, selalu tersisa kesalahan
Hanya baginya, bagi wanita itu

Tangannya lumpuh
Telinganya tuli
Matanya buta
Lisannya bisu
Hatinya membeku
Terbiasa pulang pada sangkar yang ia yakini sebagai rumah,
Asal dari nada tinggi itu...

Mengenang hingga gila
Merindukan nada yang belum setinggi itu,
Begitu manis
Melamun hanya melamun sampai mati

Sebait rindu dibalik kardus
Semanis ingatan sebelum lumpuh
Sebelum mati.